11 Tanda Stres Saat Mengasuh Anak yang Harus Diwaspadai


Popular Artikel


Kehadiran si kecil yang ditunggu-tunggu tentu membawa kebahagiaan bagi perjalanan pernikahan. Namun, bukan berarti kebahagiaan itu dirasakan sepanjang waktu tanpa melalui tantangan, mulai dari masalah waktu, keuangan, hingga soal pengasuhan. Tak jarang, permasalahan ini memicu stres yang berujung parental burnout.

Parental burnout biasanya terjadi tanpa disadari akibat akumulasi emosi, kejenuhan, dan kecemasan yang terpendam. Misalnya, bagi perempuan yang memutuskan untuk full time di rumah dan mengasuh anak-anak, waktu 24 jam terasa tidak cukup. Hal-hal yang padat dan seolah tidak pernah berakhir dapat membuat para Ibu mulai menunjukkan tanda parental burnout atau tanda stres. Begitu pula dengan Ayah, bekerja di luar rumah dengan waktu perjalanan yang tidak singkat dan tanpa jeda untuk mengistirahatkan pikiran juga bisa menunjukkan tanda stres.

Tanpa disadari adanya tanda stres akan muncul pada seseorang yang seolah sudah sampai pada titik puncak toleransi pada dirinya. Jika sebelumnya, seseorang yang terlalu sibuk akan berpikir, “ah, nggak apa-apa, aku bisa kok”, “ah, nggak apa-apa, ini harus selesai sekarang biar bisa tidur.” Kini, semua ungkapan tersebut mulai bertolak belakang dengan apa yang dirasakan batin sesungguhnya.

Kebanyakan orangtua yang sudah mulai menunjukkan tanda stres, tidak memiliki kemampuan untuk menangani stresnya tersebut. Ayah juga bisa mengalami parental burnout, jika sudah lelah dengan segudang pekerjaan di kantor kemudian merasa tidak bisa meluangkan cukup waktu untuk istri dan anak. Ibu juga tak kalah besar potensinya untuk ‘meledak’ kapan saja karena kelelahan.

Jesi Taylor Crus menulis untuk laman Romper tentang adanya 11 tanda stres yang ditunjukkan orangtua berdasarkan pendapat ahli psikologi. Dari tanda-tanda stres ini pula ditunjukkan bahwa yang terdampak dengan adanya parental burnout tidak hanya orangtua, tapi juga anak-anak mereka. Berikut ini tanda-tandanya:

Merasa Sudah Sampai di Titik Puncak Kesabaran
Jenuh! Ini adalah kata yang berputar di otak ketika sudah sampai di titik puncak kesabaran. Rasanya sudah mencurahkan semua perhatian, waktu, tenaga, tapi kenapa masih merasa seperti ini ya?

Nah, ini dia salah satu tanda stres yang mulai terlihat saat parental burnout terjadi. Ibu atau Ayah akan mengalami momen di mana kalian menyadari bahwa rutinitas harian ini membosankan. Sudah dijalani dengan maksimal, tapi malah merasa seperti hopeless. Kepala rasanya sudah mau pecah karena pekerjaan tidak ada yang selesai dan pikiran malah jenuh.

Letih Berkepanjangan
Banyak orangtua yang sering menganggap bahwa semua pekerjaan harus segera selesai dalam waktu bersamaan. Pekerjaan yang tidak sedikit, ditambah dengan perfeksionisme yang salah tempat mengakibatkan tubuh merespons lebih dulu dengan lelah dan lemas. Rasa letih yang tidak wajar dan seolah-olah energi langsung terkuras habis setelah melakukan suatu aktivitas, ini bisa jadi tanda stres atau parental burnout.

Melampiaskan Emosi Pada Anak
Sebenarnya, kekerasan yang dilakukan orangtua pada anak tidak hanya merupakan tanda-tanda adanya masalah kejiwaan, tetapi juga tanda bahwa orangtua sudah siap ‘meledak’. Bagi anak, dunia ini adalah hal baru yang butuh dipelajari.

Mereka tidak tahu bahwa tumpukan baju kotor di keranjang cuci sebaiknya tidak dibuat mainan. Mereka juga tidak mengerti bahwa eksperimen mereka menumpahkan isi gelas adalah sesuatu yang tidak disukai ibu karena akan membuat lantai basah dan kotor.

Jika ternyata dalam eksplorasi anak-anak, Ibu atau Ayah malah ingin selalu memukul mereka, atau menggunakan kekerasan lainnya saat mendisiplinkan anak, maka orangtua perlu mencari bantuan meredakan meredakan stres yang dialami. Orangtua harus selalu berhati-hati, jangan sampai anak menjadi korban parental burnout yang terlambat ditangani.

Selalu Bertengkar dengan Pasangan
Saling menyalahkan antar pasangan merupakan tanda stres berikutnya. Diri sendiri akan menolak untuk disalahkan atas hal sepele dan sebenarnya bisa ditoleransi. Jika pasangan adalah sasaran kemarahan, hal ini perlu diwaspadai. Artinya, ada emosi yang sedang dipendam karena stres dan Ibu sedang mencari ladang pelampiasan.

Mulai Mengabaikan Kebutuhan Emosional, Fisik, dan Edukasi Anak
Tanda stres selanjutnya tercermin ketika orangtua mulai abai terhadap kebutuhan anak. Orangtua mulai malas memandikan anak, memasak makanan untuk anak, bahkan malas mendampingi anak belajar sesuatu yang baru. Ibu merasa tidak ada waktu untuk melakukan itu. Di kondisi lain bahkan Ibu merasa sudah tidak ingin lagi melakukan hal ini karena sangat jenuh melakukannya setiap hari tanpa henti.

Mulai Mengabaikan Kebutuhan Diri Sendiri
Diri sendiri tentu masih butuh diperhatikan lho, Bu. Jika Ibu sudah merasa tidak bisa lagi merawat diri, sering menunda mandi hingga larut malam, lupa makan, tidak ingat lagi runtutan memakai perawatan kulit, maka Ibu sedang menunjukkan tanda stres.

Ibu tidak lagi peduli pada diri Ibu sendiri. Sama halnya dengan Ayah. Mengabaikan kebutuhan diri tidak hanya soal fisik, tapi juga pikiran. Menyepelekan pentingnya me time akan berimbas pada munculnya parental burnout.

Ada Perasaan Disconnected dengan Anak
Sering merasa tidak lagi ‘klik’ dengan anak? Ibu sedang menunjukkan tanda stres pada parental burnout. Anak yang biasanya tampak menyenangkan untuk selalu diajak melakukan apa pun, kini tampak sangat menyebalkan. Bukannya tidak sayang, hanya saja ada momen di mana Ibu merasa kehilangan jiwa sebagai Ibu yang peduli pada anaknya.

Mulai Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Saat stres, orangtua akan cenderung ingin menyendiri, ingin lari dari semua kewajiban, dan memilih untuk tertutup pada teman, keluarga, bahkan pasangan. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana bisa sendirian dan melepas penat tanpa anak-anak dan segunung pekerjaan.

Mengalami Masalah Tidur dan Perubahan Nafsu Makan
Gangguan saat tidur disinyalir sebagai perwujudan emosi saat terjaga. Jika Ibu mulai sulit tidur dan sering terbangun di jam-jam yang seharusnya lelap, maka saat itulah Ibu mulai menunjukkan tanda stres. Perubahan nafsu makan juga biasanya terjadi saat orangtua mengalami parental burnout. Ada yang enggan makan, ada juga yang malah akan makan secara berlebihan tanpa bisa mengontrolnya atau lazim disebut emotional eating.

Jadi lebih Emosional dan Mudah Tersinggung
Orang yang sedang mengalami stres, perasaannya lebih sensitif dari biasanya dan mudah sekali tersinggung untuk hal kecil sekalipun. Emosi yang sedang tidak stabil cenderung mudah tersulut. Ini merupakan salah satu tanda stres dan menunjukkan bahwa orangtua perlu rehat sejenak.

Merasa Terpuruk dan Ingin Menyakiti Diri
Stres yang sudah terpendam lama dan semakin membesar membuat seseorang yang tengah mengalaminya sadar bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, bahkan terpuruk jauh di dalamnya. Bila melibatkan orang lain seperti anak atau pasangan, biasanya seseorang yang stres akan diikuti perasaan bersalah dan justru ingin mengakhiri hidupnya. Yang lebih parah lagi ada yang ingin membunuh anaknya. Wah, sangat berbahaya jika tidak segera mencari bantuan nih.

Cara Menangani Stres atau Parental Burnout
Setelah mengetahui tanda-tanda stres, alangkah baiknya jika orangtua segera mencari cara untuk mengatasi masalah yang dimiliki agar tidak berimbas lebih jauh dan mengorbankan anak maupun pasangan.

Menemui Psikolog/Psikiater
Berkonsultasi pada ahli bukan hanya untuk mereka yang memiliki kelainan jiwa. Seseorang yang memiliki tingkat stres yang tinggi juga sebaiknya menemui psikolog atau psikiater untuk menemukan akar masalah emosinya dan bisa dibimbing untuk mengobati mental dengan baik.

Refreshing
Upayakan untuk memiliki waktu khusus melakukan refreshing. Bisa dengan meluangkan waktu melakukan hobi, berjalan-jalan di sekitar rumah untuk mencari udara segar, atau mengajak pasangan liburan ke tempat indah.

Rutinkan Me Time
Sesekali, gunakan waktu libur suami untuk pergi sendiri tanpa anak-anak. Biarkan anak-anak diasuh ayahnya untuk sementara waktu atau sebaliknya. Pergilah berbelanja, mampir minum kopi di kafe, berkumpul dengan teman sebaya, atau sekadar menonton film di bioskop jika itu bisa membantu menyegarkan pikiran Ibu.

Ada juga beberapa Ibu yang justru senang melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa ada orang lain di rumahnya. Maka Ibu bisa meminta Ayah untuk membawa anak-anak pergi jalan-jalan sementara Ibu bisa mengurus rumah sambil mendengarkan musik keras-keras. Waktu untuk memperhatikan diri sendiri atau me time ini sebaiknya rutin dilakukan untuk menjaga kewarasan orangtua.

Quality Time Bersama Pasangan
Ayah dan Ibu bisa menitipkan anak-anak untuk sementara waktu pada kakek-neneknya atau bibi-pamannya. Pergilah kencan dengan suami beberapa jam dan nikmati waktu yang menyenangkan berdua saja seperti saat masih pacaran dulu.

Penuhi Kebutuhan Diri
Ibu dan Ayah perlu memvalidasi perasaan yang dialami, jangan mengelak apalagi membohongi diri sendiri saat sedang stres. Bicaralah pada diri sendiri apa yang dibutuhkan agar rasa jenuh dan stres segera pergi.

Pikirkan tentang diri yang akan merugi jika semua waktu yang dimiliki digunakan untuk marah-marah dan frustrasi. Jika sudah bisa mencintai diri sendiri, maka akan mudah untuk mencintai orang lain.

Source : https://www.ibupedia.com (Dwi Ratih)