Setia Sampai Akhir Mengikut yesus

27-10-2019

Tuhan tahu segala derita kita; jika kita TETAP BERJUANG dan SETIA SAMPAI AKHIR, maka Dia akan mengaruniakan MAHKOTA KEHIDUPAN yang kekal kepada setiap kita yang senantiasa setia kepada Tuhan dan pasangan kita serta tugas dan panggilan kita.

Bersyukur dan Berkarya

29-09-2019

Pendahuluan: Ibrani 10:5-9 mengutip Mzm. 40:7-9 mengenai makna korban berkaitan dengan Kristus sebagai penebus dosa, sehingga Mazmur 40 ini tergolong Mazmur Mesianik. Penulisan Mazmur ini tidak memberikan waktu yang jelas, dan diperkirakan pada waktu Daud di pengungsian atau pada tahun-tahun awal ia memerintah. Dari pelajaran berharga Mazmur Daud ini memberi petunjuk penting bagi kita untuk melihat bagaimana menghadapi masa-masa sulit seperti yang dialami pemazmur yaitu Daud sendiri. Berdasarkan Mazmur 40:1-11 kita akan merenungkan firman Tuhan ini dengan tema: “Bersyukur dan Berkarya” Bagaimana supaya kita dapat bersyukur danberkarya bagi Tuhan melalui gereja, lembaga, sekolah, pekerjaan, keluarga, maupun melalui apapun? Maka melalui bagian firman Tuhan ini Ada 3 hal penting yang akan kitapelajari bersama, yaitu: A. Menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Tuhan Dalam ungkapan Daud ”Aku sangat menanti-nantikan Tuhan”, perhatikan kata ’sangat menanti-nantikan’ dalam terjemahan asli ’qavah’ NIV ’waited patiently’ artinya menunggu dengan sabar, atau menantikan dengan begitu sangat lama. Dari sini kita memahami bagaimana Daud setia dengan sabar menantikan pertolongan Tuhan dalam hidupnya, ketika ia berada dalam situasi tekanan, mengancam hidupnya, tetapi yang membuat ia bertahan yaitu dengan menaruh sepenuhnya pengharapannya kepada Tuhan yang ia sembah yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub. bagaimana dengan kita, sudah sampai dimana kita menaruh pengharapan kita kepada Tuhan? sejauh mana kita menantikan jawaban Tuhan? atau mungkin kita lebih percaya kepada pikiran, kepintaran kita? atau kita lebih banyak bergantung pada berkat, bukan kepada Allah yang adalah sumber berkat. Maka dalam bagian ini orang yang menaruh pengharapan kepada Tuhan, atau menanti-nantikan Tuhan dengan sabar, kalau kita lanjut sampai ayat 4 ada 7 berkat yang dialami Daud ketika ia menaruh pengharapan kepada Tuhan: ”Ia menjenguk kepadaku”, istilah ’menjenguk’ dari terjemahan ’inclined’ artinya cenderung atau mencondongkan. Daud merasakan bahwa Allah mencondongkan hatinya Daud, ini ungkapan bentuk perhatian Allah kepada Daud ”dan mendengar teriakku minta tolong”, He heard my cry ”Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawah” Ia menyelamatkan dari bahaya ”Ia menempatkan kakiku diatas bukit batu”, Ia membawa ke tempat yang aman ”Menetapkan langkahku” kata asli ’kuwn’ dalam penjelasan kata ’to be erect, to set up, in a great variety of applications’, artinya Tuhan menegakkan atau mengatur kehidupannya. Saya tertarik dengan kata ’established’ (?? setsuritsu; Pendirian, pembentukan ”Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah” ”Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.” Melihat bagaimana berkat Tuhan yang diberikan kepada Daud, ayat 5 disini Daud mengungkapkan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang menaruh kepecayaanNya kepada Tuhan, ’menaruh’ memberi arti juga menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Sebagai antonim diungkapkan dalam ayat 5 bagian berikutnya, ialah tidak berpaling ’respected’ kepada orang-orang yang angkuh (sombong, membanggakan diri) atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan. B. Selalu mengingat/merenungkan segala kebaikan Tuhan Raja Daud sungguh menyadari begitu banyak hal yang Tuhan telah perbuat dalam hidupnya, banyak menunjukkan perbuatan/kebaikan Tuhan terhadap Daud tidak terhitung dan Allah melakukan hal-hal yang ajaib. hal-hal Ajaib disini melihat kembali bagaimana Daud dalam tahun-tahun pengasihan, hidup yang selalu diburu, dikejar-kejar untuk dibunuh, dan jauh sebelumnya keajaiban pada waktu Daud masih remaja diperhadapkan dengan Goliat, sehingga hal ini dapat dikatakan karya Tuhan yang begitu indah dan ajaib, dan semuanya begitu nyata dan banyaklah rencana-rencana Allah yang begitu agung dan mulia band. Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Perbuatan Tuhan disini bukan hanya untuk Daud, kata “dan maksudMu untuk kami” hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya Daud yang menerima perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib, melalui Daud bangsa Israel juga mendapatkan hal yang serupa. Maka melihat akan perbuatan Tuhan yang ajaib, Daud sungguh yakin bahwa tidak ada allah lain yang bisa disejajarkan dengan Allah yang disembahnya, karena Allah yang dipercayai Daud yaitu Allah yang melakukan tindakan-tindakan nyata, ajaib, spektakuler, dan rencana-rencananya agung dan sangat indah. Untuk itu Daud ingin memberitakan perbuatan-perbuatan Tuhan sekalipun menghitungnya tidak sanggup. C. Bertekad, berkomitmen untuk terus berkarya bagi Tuhan Pada ayat 7 Daud mengungkapkan bahwa Allah tidak meminta persembahan korban sembelihan atau korban sajian. Korban sembelihan merupakan korban berupa hewan yang dipersembahkan kepada Tuhan, mencakup korban bakaran, korban keselamatan, korban penghapus dosa dan korban penebus salah termasuk korban sajian jika itu menggunakan hewan. Maka korban sembelihan ini sangat penting dalam kehidupan orang Israel khusunya bagi Daud. Korban sajian merupakan sebuah persembahan kepada Allah sebagai suatu tindakan penyembahan, yang melambangkan penyerahan hasil pekerjaan seseorang kepada Allah. Maka dalam korban ini memberi makna bahwa semua karya manusia atau apa yang diusahakan manusia harus dilakukan untuk Tuhan, dan setiap berkat yang diterima harus dengan ungkapan syukur kepadaNya band. 1Kor. 10:31 “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”. Kedua hal mengenai korban persembahan kepada Tuhan, Allah tidak menghendaki itu dan dan tidak menuntut untu dipersembahkan kepadaNya, bagi bagi Daud mendengarkan firman Allah adalah hal yang utama band. ayat 7 “tetapi Engkau telah membuka telingaku.” Melihat kejadian Saul liht. 1Sam. 15:22. Dari hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukan menolak persembahan kita apakah itu persembahan materi, pujian, sembah syukur atau pelayanan, tetapi yang sanagt diinginkan Tuhan bagi Daud yaitu mendengarkan firman Allah. Maka ayat 9 muncul perkataan Daud “aku suka melakukan kehendakMu ya Allah” ini dikarenakan mendengarkan perintah-perintah Allah. Istilah ”melakukan kehendak Tuhan” artinya mau berkarya menurut kehendak Tuhan. Raja Daud bertekad untuk mengabarkan keadilan Tuhan , kesetiaan Tuhan, kasih Tuhan, kebenaran Tuhan, dan keselamatan dari Tuhan (ay.10-11). Kesimpulan dan penerapan Marilah kita manata hidup dan pelayanankita kedepan dengan berpedoman padakebenaran firman Tuhan yang baru kitapelajari yaitu : Kita mau menaruh pengharapan kita sepenuhnya kepada Tuhan Kita senantiasa selalu mengingat/merenungkan segala kebaikan Tuhan dalam hidup dan pelayanan kita Marilah kita bertekad untuk terus berkarya bagi Tuhan melalui lembaga atau gereja dimana kita melayani

Penyertaan dan Pemeliharaan Tuhan

14-07-2019

(Filipi 4 : 19) Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Allahku kan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya Allahku kan mencukupi kebutuhanku di dalam Yesus Tuhan

Memprioritaskan yamg Utama

23-06-2019

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 10: 38-42 "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Kita akui bahwa sikap Maria dan Marta adalah baik adanya dalam hal menyambut Yesus. Mereka menyabut Yesus dengan caranya sendiri. Marta menyibukkan diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sementara Maria dengan nyaman menyambut Yesus melalui kerinduannya akan ajaran Tuhan Yesus. Namun, dari kebiasaan dalam rumah seharusnya Maria ada bersama dengan Marta mempersiapkan dan menyediakan segala sesuatu untuk menjamu kedatangan Yesus. Wajar jika Marta protes, namun Yesus tidak mempersalahkan Marta ataupun Maria. Tetapi kita mendapatkan pelajaran dari kisah ini bahwa ada yang utama tetapi ada yang lebih utama, jika di depan mata ada yang lebih utama tentunya tidak akan di sia-siakan. Maria tidak mensia-siakan kedatangan Yesus, jika Yesus menyempatkan diri datang ke rumah mereka disela-sela kesibukan pelayananNya. Maka ada saat yang tenang dan santai mendengar pengajaran Yesus yang berharga dalam hidupnya. Fokus pengajaran yang bisa kita dapatkan dalam nas ini adalah bagaimana Maria yang haus akan firman pengajaran dari Tuhan Yesus. Protes Marta terhadap skap Maria kepada Yesus dijawab oleh Yesus: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Jawaban Yesus ini mempertegas hal yang positif dari sikap Maria bahwa ia telah mengambil dan memilih yang terbaik untuk kehidupannya, dan ini jugalah yang menjadi pengajaran bagi mereka dan bagi kita juga. Kisah ini bukan hendak menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Marta adalah salah, namun semangat pelayanan dan penyambutan Maria dan Martha terhadap Yesus sama-sama menjadi pengajaran bagi kita. Pengajaran yang dimaksud adalah ketika kita memadukan kedua cara penyambutan yang mereka lakukan. Adalah timpang jika perbuatan baik itu tidak memiliki dasar kebenaran, demikian juga mengenal kebenaran Tuhan tetapi tidak ada aplikasi. Mengenal dan mencintai kebenaran Tuhan harus beriringan dengan perbuatan. Itulah sebabnya Lukas menuliskan kisah Maria dan Martha ini tepat disetelah Lukas menuliskan tentang perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (10: 25-37). Bahwa tidak cukup hanya mengenal dan mengetahui tentang kebenaran firman Tuhan, namun lebih dari itu harus menyatakan pengenalan kebenaran Firman Tuhan itu dalam kehidupan. Yang menjadi permasalahan bagi Marta adalah terletak pada sikap hatinya, sebab tidak ada yang salah jika dilihat dari niatnya yang tulus untuk berbuat yang terbaik bagi Yesus. Itulah sebabnya Yesus mengatakan "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara”. Kekawatirannya telah membawa dia pada sikap yang salah sampai-sampai dia telah memerintah Tuhan Yesus. Marta sampai lupa untuk apa dan untuk siapa menyibukkan dirinya. Sikap marah-marah menjadi indikasi kita sedang dalam kekawatiran, Marta terlalu menghawatirkan sesuatu yang tidak begitu perlu sampai melupakan tujuan utama. Sepertinya Marta perlu untuk istirahat. Kedatangan Yesus bukan untuk makan roti yang lezat ataupun meminum minuman yang enak, tetapi perjumpaan kepada setiap pribadi yang Tuhan kunjungi. Tamu yang berkunjung ke rumah kita bukanlah karena makanan dan minuman yang ada di rumah kita, tetapi tentunya tamu tersebut ingin berjumpa dengan kita ataupun keluarga kita. Terkadang kita terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak begitu penting dalam perjumpaan kita dengan Tuhan. Tentang apa yang akan kita pakai ke gereja atapun persiapan yang lain yang kita butuhkan ataupun kita justru bisa menjadi marah seperti Marta karena sikap orang lain yang menjadi penghalang bagi tujuan utama kita berjumpa dengan Tuhan. Pernahkah kita mendengar atau mengetahui ada orang Kristen yang akhirnya memuuskan tidak datang ke gereja karena ada permasalahan dalam persekutuan dalam gereja. Jika kita kembali fokus dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam nas ini bahwa “Maria telah memilih bagian yang terbaik”. Keramahan dan sukacita Maria meyambut Tamu-nya berfokus pada tujuan utama perjumpaan itu bukan hal-hal pendukung perjumpaan itu. Sehingga kita di ajar melalui nas ini untuk merenungkan kembali bagaimana ketulusan, keiklasan dan niat kita yang murni untuk berjumpa dengan Tuhan. Sebagaimana Firman Tuhan yang mengatakan “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”.

Pengampunan dan Mengampuni

16-06-2019

Pembacaan Firman: Matius 6:12 “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” Mengampuni bagi banyak orang bukanlah suatu perkara yang mudah. Ketika kita disakiti, dikecewakan, difitnah, dan sebagainya, terkadang bagi kita melepaskan pengampunan terasa begitu berat. Namun bagi orang percaya mengampuni adalah keharusan. Berulang kali di tegaskan dalam Alkitab bagaimana kita harus mengampuni. Ada anggapan ketika kita mengampuni, keuntungan terbesar menjadi milik orang yang kita ampuni, seperti memberikan sesuatu kepada orang tersebut. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab di sisi lain mengampuni sesungguhnya besar dampaknya bagi diri kita sendiri. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan kita mengampuni ? 1. Kesalahan Kita Diampuni (Matius 6:14) “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga”. Syarat utama kesalahan kita diampuni oleh Tuhan, adalah dengan kita terlebih dahulu mengampuni kesalahan orang. Melepaskan pengampunan bukan hanya berdampak pada pribadi kita sendiri, namun hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan mengasihi dan mengampuni orang-orang yang juga bisa mengampuni orang lain. 2. Ada Perasaan Lega, Sukacita, Damai Sejahtera Ketika kita melepaskan pengampunan, hidup kita akan terasa begitu bebas, tiada yang membebani. Urusan kita dengan pribadi kita (dan orang lain) sudah beres, tidak ada yang menghalangi sukacita kita. Berbeda dengan orang yang masih berkutat terus memikirkan kesalahan-kesalahan orang. 3. Hidup Kita Berkenan Bagi Tuhan Orang yang mengampuni tidak meninggalkan masalah di hidupnya, kesalahannya diampuni Tuhan, hidupnya berkenan bagi Tuhan. Sangat berbeda antara kehidupan orang yang Mengampuni dan Tidak Mengampuni. Ketika kita tidak bisa mengampuni orang lain, maka: 1. Kesalahan Kita Tidak Diampuni Tuhan (Matius 6:15) “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Tidak mau mengampuni berdampak buruk terhadap hubungan kita dengan Tuhan, kesalahan kita tidak akan diampuni pula, sia-sialah kita berdoa. Karena itu bereskan dulu hal yang mengganjal hati kita sehingga kita membangun hubungan baik dengan Tuhan. (Markus 11:25) “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang disorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. 2. Akar Pahit, Tidup Tersiksa, Tidak ada Damai Sejahtera Orang yang tidak mengampuni menyimpan kepahitan dalam hatinya. Hidupnya tidak tenang, menderita, tida ada sukacita. Bahkan ketika beribadah sekalipun terasa berat. Kehidupan orang yang tidak mengampuni terasa suram dan tiada kebebasan, sebab untuk bahagia selalu ada ganjalan dihati. 3. Kita Menghakimi Orang Ketika kita tidak mengampuni, fokus kita tertuju pada keburukan orang dan tidak melihat kekurangan diri, cenderung menghakimi padalah tanpa dia sadari pengampunan Tuhan tertutup baginya. Marilah kita saling mengampuni bukan saling menghakimi. 4. Membuka diri terhadap banyak dosa Bermula dari tidak mengampuni, selain kita menutup diri bagi Tuhan kita juga membuka diri terhadap banyak dosa. Tidak dapat mengampuni bisa menjadi dendam, akar pahit, dengki, fitnah, berusaha membalas kejahatan, dll. Tidak ada hal positif bagi diri kita ketika kita tidak mengampuni. Menyimpan dendam dan amarah hanya akan berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain, selagi sempat jangan biarkan kehidupan kita dikuasai dosa. Walaupun mungkin berat, namun belajarlah untuk mengampuni. Jangan menuntut pembalasan namun ampunilah orang. Pembalasan adalah hak Tuhan, dan bukan hak kita. Sekalipun kita dikecewakan jangan kita menyimpan dendam, bahkan sering kali doa kita bahkan minta pembalasan, Tuhan seakan-akan disuruh membalas dendam kita sendiri. Kasihilah orang lain termasuk musuh kita, sebab itu yang dikehendaki Tuhan dihidupmu. Kesalahan orang biarlah menjadi urusan dirinya dengan Tuhan, urusan kita hanyalah mengasihi dan mengampuni. Tuhan Memberkati

Waktu

26-05-2019

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langjt ada waktunya.” Pengkotbah 3:1. Di dunia ini tidak ada yang kekal. Seluruh kehidupan makhluk di alam semesta ini tidak akan berlangsung selamanya, melainkan dibatasi waktu. Maka hati-hatilah, jangan terjebak tipuan kekuatan jahat yang selalu menggoda kita untuk membuang-buang waktu, sehingga kita kehilangan waktu yang demikian berharga. Perhatikan! Setiap detik yang lewat tak dapat terulang kembali. “Karena, itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:15-17). Bila kita menyadari hidup kita dibatasi waktu, kita akan menghargai dan memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Banyak orang yang malas, suka menunda-nunda suatu tugas/pekerjaan, padahal itu tidak mengurangi suatu kesulitan. Mungkin untuk sementara memang sepertinya masalah itu terlewatkan, tetapi sesungguhnya kita justru membuat suatu kesulitan baru yang malah membawa kita kepada penderitaan. Kemalasan sepertinya telah menjadi hal yang membawa kenikmatan, hingga pada suatu kondisi yang menjepit, itu akan menjadi sangat terlambat. Salomo mengatakan, “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” – “maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti - seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:9-11). Akhirnya orang hanya akan menangisi penderitaannya sebagai akibat dari kesalahan yang dibuatnya sendiri karena telah membuang-buang waktu dengan percuma. Alkitab tegas menyatakan barangsiapa tidak bekerja, ia tidak boleh makan (baca 2 Tesalonika 3:10). Bagi orang dunia ‘waktu adalab uang’. Tetapi firman-Nya menegaskan bahwa waktu itu tidak ada kaitannya dengan uang, sebaliknya waktu-waktu sekarang ini adalah jahat. Jadi, kita harus menggunakannya dengan sangat bijak. Waktu adalah anugerah dari Tuhan, oleh sebab itu jangan disia-siakan!

Kita Berharga DImata Tuhan ( Roma 5 : 1-2)

14-04-2019

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”

Berkat Tuhan Tepat Pada Waktunya

24-02-2019

Habakuk 2:1-20 (Ayat 3) Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.

Perumpamaan Tentang Penabur

17-02-2019

Matius 13:1-9 13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"