PPOK (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS )

01-10-2019

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit peradangan paru yang berkembang dalam jangka waktu panjang. Penyakit ini menghalangi aliran udara dari paru-paru karena terhalang pembengkakan dan lendir atau dahak, sehingga penderitanya sulit bernapas. Sebagian besar pederita PPOK adalah orang-orang yang berusia paruh baya dan perokok. Penderita penyakit ini memiliki risiko untuk mengalami penyakit jantung dan kanker paru-paru. Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis Pada tahap-tahap awal, PPOK jarang menunjukkan gejala atau tanda khusus. Gejala penyakit ini baru muncul ketika sudah terjadi kerusakan yang signifikan pada paru-paru, umumnya dalam waktu bertahun-tahun. Terdapat sejumlah gejala PPOK yang bisa terjadi dan sebaiknya diwaspadai, yaitu: Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh dengan warna lendir dahak berwarna agak kuning atau hijau. Pernapasan sering tersengal-sengal, terlebih lagi saat melakukan aktivitas fisik. Mengi atau napas sesak dan berbunyi. Lemas. Penurunan berat badan. Nyeri dada. Kaki, pergelangan kaki, atau tungkai menjadi bengkak. Bibir atau kuku jari berwarna biru. Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis Dari tenggorokan, saluran pernapasan terbagi menjadi 2 cabang yang menuju paru-paru kiri dan kanan. Di dalam paru-paru, saluran pernapasan terbagi lagi menjadi banyak cabang yang berujung pada kantong kecil (alveoli) tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Paru-paru mengandalkan kelenturan alami dari saluran udara dan alveoli untuk mendorong udara berisi karbon dioksida keluar dari tubuh. Saat mengalami penyakit paru obstruktif kronis, baik alveoli dan seluruh cabang saluran napas menjadi tidak lentur lagi, sehingga sulit mendorong udara. Selain itu, saluran pernapasan juga menjadi bengkak dan menyempit, serta memproduksi banyak dahak. Akibatnya, karbon dioksida tidak dapat dikeluarkan dengan baik dan pasokan oksigen juga menjadi berkurang. Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit paru obstrukstif kronis. Di antaranya adalah: Rokok. Pajanan asap rokok pada perokok aktif maupun pasif merupakan faktor utama yang dapat memicu PPOK, serta sejumlah penyakit pernapasan lainnya. Bahan kimia berbahaya dalam rokok dapat merusak lapisan paru-paru dan jalan napas. Diperkirakan, sekitar 20-30 persen perokok aktif menderita PPOK. Menghentikan kebiasaan merokok dapat mencegah kondisi PPOK bertambah parah. Pajanan polusi udara, misalnya asap kendaraan bermotor, debu, atau bahan kimia. Polusi udara dapat menggangggu kerja paru-paru dan meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis. Usia. PPOK akan berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Gejala penyakit umumnya muncul di usia 40 tahunan. Penyakit asma. Penderita penyakit asma, terutama yang merokok, rentan mengalami penyakit paru obstruktif kronis. Faktor keturunan. Jika memiliki anggota keluarga yang menderita PPOK, Anda juga memiliki risiko untuk terkena penyakit yang sama. Selain itu, adanya defisensi antitripsin alfa-1 juga dapat meningkatkan risiko terjadinya PPOK. Antitripsin alfa-1 adalah zat yang melindungi paru-paru. Defisiensi antitripsin alfa-1 dapat bermula pada usia di bawah 35 tahun, terutama jika penderita gangguan ini juga merokok. Diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronis Dokter akan menanyakan gejala, meninjau riwayat kesehatan (termasuk riwayat merokok), serta memeriksa kondisi fisik pasien . Pemeriksaan fisik terutama pada paru-paru. Tes fungsi paru-paru (spirometri) akan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut spirometer. Fungsi paru-paru akan dinilai melalui volume hembusan napas pasien, yang dikonversikan dalam sebuah grafik. Jika dibutuhkan, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan yang lebih detail seperti: Tes darah, untuk memastikan apakah pasien menderita penyakit lain, seperti anemia dan polisitemia, yang memiliki gejala serupa dengan PPOK. Tes darah juga digunakan untuk memeriksa antitripsin alfa-1. Analisis gas darah arteri. Tes ini untuk melihat kandungan oksigen dan karbondioksida dalam darah. Foto Rontgen dada. Foto Rontgen dada dilakukan untuk mendeteksi ganguan pada paru-paru. CT scan, yang dapat menunjukkan gambaran paru-paru secara lebih detail. Elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiogram, guna memeriksa kondisi jantung. Pengambilan sampel dahak. Pengobatan Penyakit Paru Obstruktif Kronis Hingga saat ini, PPOK termasuk penyakit yang belum bisa disembuhkan. Pengobatannya bertujuan untuk meringankan gejala dan menghambat perkembangan penyakit ini. Meski demikian, kombinasi pengobatan yang tepat dapat mengendalikan gejala PPOK, sehingga penderita dapat menjalani kegiatan dengan normal. Beberapa langkah pengobatan yang bisa dilakukan meliputi: Penggunakan obat-obatan. Obat yang umumnya diberikan dokter paru untuk mengatasi gejala PPOK adalah inhaler (obat hirup). Contohnya adalah kombinasi bronkodilator yang melebarkan saluran pernapasan, dengan obat hirup kortikosteroid yang mengurangi peradangan pada jalan napas. Jika obat hirup belum bisa mengendalikan gejala PPOK, maka dokter dapat memberikan obat minum berupa kapsul atau tablet. Obat yang biasa diberikan adalah teofilin untuk melegakan napas dan membuka jalan napas, mukolitik untuk mengencerkan dahak atau lendir, kortikosteroid untuk mengurangi peradangan jalan napas jangka pendek saat gejala bertambah parah, serta obat antibiotik jika terjadi tanda-tanda infeksi paru-paru. Fisioterapi dada. Program fisioterapi dada atau dikenal juga dengan rehabilitasi paru-paru merupakan program yang dilakukan untuk memberikan edukasi mengenai PPOK, efeknya terhadap kondisi psikologi, dan pola makan yang sebaiknya dilakukan, serta memberikan latihan fisik dan pernapasan untuk penderita PPOK seperti berjalan dan mengayuh sepeda. Tindakan operasi. Tindakan ini hanya dilakukan pada penderita PPOK yang gejalanya tidak dapat direndakan dengan pemberian obat atau terapi. Contohnya adalah transplantasi paru-paru, yaitu operasi pengangkatan paru-paru yang rusak untuk diganti dengan paru-paru sehat dari donor. Di samping penanganan medis, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh penderita untuk menghambat bertambahnya kerusakan pada paru-paru. Di antaranya adalah: Berhenti merokok atau menghindari pajanan asap rokok. Ini merupakan langkah utama agar PPOK tidak bertambah parah. Menghindari polusi udara, misalnya asap kendaraan bermotor. Memasang alat pelembap udara ruangan (air humidifier). Menjaga pola makan yang sehat. Rutin berolahraga. Menjalani vaksinasi secara rutin, contohnya vaksin flu dan vaksin pneumokokus. Memeriksakan diri secara berkala ke dokter agar kondisi kesehatan bisa tetap terpantau.

DEMAM BERDARAH DENGUE

24-09-2019

Demam berdarah dengue atau biasa disingkat DBD adalah penyakit menular akibat virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat virus dengue. DBD dulu sempat disebut penyakit “break-bone” karena kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot yang membuat tulang terasa retak. DBD taraf awal menyebabkan demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Sementara demam berdarah yang parah, juga dikenal sebagai dengue hemorrhagic fever (demam dengue), dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian. Seberapa umum demam berdarah dengue? Jutaan kasus infeksi DBD terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa pun tanpa mengenal status, jenis kelamin, dan usia. Penyakit akibat gigitan nyamuk ini paling sering menyerang di area tropis dan subtropis, selama musim hujan dan setelah musim hujan: Afrika Asia Tenggara dan Tiongkok India Timur Tengah Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan Australia, Pasifik Selatan dan Pasifik Tengah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa kasus demam berdarah di seluruh dunia meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Diperkirakan ada sekitar 50-100 juta kasus demam berdarah setiap tahun, dan sekitar setengah dari populasi manusia di dunia berisiko terkena penyakit ini. Tanda-tanda & gejala Apa saja tanda-tanda dan gejala DBD? Terdapat 3 jenis demam dengue, demam berdarah dengue, dan dengue shock syndrome. Berikut adalah penjelasannya: Demam dengue Gejala demam dengue klasik biasanya diawali dengan demam tinggi (>40 ºCelsius) selama 4-7 hari setelah digigit nyamuk, serta: Sakit kepala parah Nyeri pada bagian belakang mata Nyeri otot dan sendi parah Mual dan muntah Ruam Ruam mungkin muncul di seluruh tubuh 3 sampai 4 hari setelah demam, kemudian berkurang setelah 1 hingga 2 hari. Anda mungkin mengalami ruam kedua beberapa hari kemudian. Demam berdarah dengue (Dengue hemorrhagic fever) Gejala dari dengue hemorrhagic fever meliputi semua gejala dari demam dengue, ditambah: Muntah terus menerus Sakit perut parah Sulit bernapas setelah demam awal mereda Kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening Perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit, menyebabkan memar berwarna keunguan Selama 24 hingga 48 jam kedepan, kapiler darah di seluruh tubuh mulai bocor. Komponen darah yang bocor dapat mengalir dan membanjiri rongga perut (peritoneum) dan rongga paru-paru. Perdarahan juga dapat berisiko menimbulkan kerusakan pada kelenjar getah bening dan pembesaran hati. Jenis penyakit dengue ini dapat menyebabkan kematian. Dengue shock syndrome Gejala dari dengue shock syndrome adalah yang paling parah. Gejala demam syok meliputi semua gejala dengue dan demam berdarah dengue, ditambah: Kebocoran di luar pembuluh darah Perdarahan parah Shock (tekanan darah sangat rendah) Jenis penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang mengalami infeksi dengue kedua kalinya. Jenis penyakit ini seringkali berakibat fatal, terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kapan saya harus periksa ke dokter? Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda. Fase atau Tahapan Penyakit Setelah nyamuk menggigit, virus yang dibawanya kemudian akan masuk dan mengalir dalam darah Anda. Virus dengue akan lebih dulu inkubasi sampai pada akhirnya memunculkan gejala dalam 3 tahapan. Fase demam berdarah sering juga disebut “Siklus Pelana Kuda”. Berikut adalah hal yang harus Anda ketahui: 1. Fase demam Setelah virus mulai menginfeksi, fase pertama akan muncul ditandai dengan demam tinggi yang tiba-tiba dan bisa lebih dari 40 ºCelsius. Demam dapat berlangsung selama 2 sampai 7 hari. Selain demam, akan muncul gejala lain seperti nyeri sendi, nyeri otot, dan sakit kepala. Jika demam bertahan lebih dari seminggu, kemungkinan ini bukan disebabkan oleh DBD. 2. Fase kritis Setelah fase demam, pasien DBD biasanya akan mengalami fase kritis yang mengecoh. Disebut mengecoh karena pada tahap ini demam sudah turun drastis sehingga dianggap sembuh. Bahkan beberapa pasien ada yang sudah kembali beraktivitas normal. Padahal, di tahap ini pasien harus tetap mengikuti perawatan dan pengobatan dari dokter. Jika tidak, trombosit darah akan semakin sedikit. Inilah yang terkadang suka menyebabkan perdarahan yang tidak disadari. Fase demam berdarah ini harus cepat mendapatkan perawatan. Karena jika dalam 1 sampai 2 hari tidak juga ditangani, bisa fatal akibatnya. 3. Fase penyembuhan Setelah fase kritis sudah dilewati dengan penanganan tepat, umumnya pasien DBD akan mengalami demam kembali. Akan tetapi, tidak perlu khawatir. Umumnya saat demam kembali naik, trombosit pun juga akan perlahan naik. Cairan tubuh yang tadinya turun selama dua fase pertama juga pelan-pelan mulai kembali normal. Orang yang sakit DBD bisa dikatakan mau sembuh jika jumlah trombosit dan sel darah putihnya kembali normal setelah dites. Fase penyembuhan juga biasanya ditandai dengan nafsu makan yang meningkat, nyeri otot yang membaik, dan rutinitas buang air kecil kembali normal seperti sediakala. Penyebab Apa penyebab demam berdarah dengue? Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Biasanya pergelangan kaki dan leher menjadi bagian tubuh yang umum digigit nyamuk. Terdapat 4 virus dengue, yaitu virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Setelah nyamuk pembawa virus menggigit, virus akan masuk dan mengalir dalam darah manusia kemudian menginfeksi sel-sel kulit terdekat yang disebut keratinosit. Virus dengue juga menginfeksi dan berkembang biak di dalam sel Langerhans, sel kekebalan khusus yang ada di lapisan kulit. Sel Langerhans normalnya bekerja membatasi penyebaran infeksi secara terus-menerus. Namun, sel yang sudah terinfeksi virus itu selanjutnya pergi ke kelenjar getah bening dan menginfeksi lebih banyak sel sehat. Penyebaran virus dengue menghasilkan viremia, yang merupakan tingkat tinggi dari virus dalam aliran darah. Untuk mengatasi hal ini, sistem imun akan menghasilkan antibodi khusus yang menetralkan partikel virus dengue, sementara sistem kekebalan cadangan diaktifkan untuk membantu antibodi dan sel darah putih melawan virus. Respons imun juga mencakup sel T sitotoksik (limfosit), yang mengenali dan membunuh sel yang terinfeksi. Proses inilah yang kemudian memunculkan berbagai gejala DBD seperti yang sudah dijelaskan atas. Seekor nyamuk yang membawa virus dengue dapat terus menginfeksi orang lain selama ia masih hidup. Ada kemungkinan seluruh anggota keluarga bisa terinfeksi virus dengue yang sama dalam waktu 2 sampai 3 hari. Begitu Anda pulih dari demam berdarah, imunitas Anda akan terbentuk namun hanya untuk strain tertentu. Ada 4 jenis virus dbd, yang berarti Anda dapat terinfeksi lagi tapi oleh jenis yang berbeda dari sebelumnya. Faktor-faktor risiko Apa yang meningkatkan risiko saya untuk demam berdarah dengue? Ada banyak faktor risiko untuk demam berdarah yaitu: Tinggal atau bepergian ke daerah dengan iklim tropis. Berada di daerah tropis dan subtropis meningkatkan risiko kena demam berdarah. Daerah yang berisiko tinggi adalah Asia Tenggara, bagian barat Kepulauan Pasifik, Amerika Latin, dan Karibia. Pernah kena DBD. Jika sebelumnya pernah sakit DBD, Anda berpeluang tinggi mengalami gejala yang lebih serius jika terinfeksi lagi. Komplikasi Komplikasi DBD apa yang bisa terjadi? DBD atau demam berdarah tidak bisa sembuh dengan dibiarkan begitu saja. Bila dibiarkan tanpa penanganan medis, DBD akan menimbulkan berbagai komplikasi yang membahayakan organ tubuh dan bahkan menimbulkan kematian. Salah satu komplikasi utama yang sering terjadi saat Anda terserang demam berdarah adalah kerusakan pembuluh darah dan kelenjar getah bening. Komplikasi lainnya termasuk perdarahan organ dalam yang ditandai dengan mimisan, gusi berdarah, badan mudah memar tanpa sebab, hingga BAB berdarah.. Lambat laun perdarahan dalam dapat menyebabkan syok akibat tekanan darah yang menurun drastis dalam waktu singkat. Jika sampai mengalami syok, artinya penyakit Anda sudah masuk kategori dengue shock syndrome (DSS). Ini adalah jenis demam dengue yang paling parah dan bisa menyebabkan gagal jantung dan ginjal, Bahkan kemungkinan juga berujung pada kematian. Jika sudah parah, pasien demam berdarah dengue bisa mengalami kebocoran plasma. Kebocoran plasma dapat dilihat dari tingkat hematokrit atau kekentalan darah pada uji laboratorium di rumah sakit. Obat & Pengobatan Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda. Bagaimana mendiagnosis demam berdarah dengue? Mendiagnosis demam berdarah mungkin sulit dilakukan, karena tanda-tanda dan gejalanya sulit dibedakan dengan penyakit lain seperti malaria, leptospirosis, dan tifus. Beberapa tes laboratorium dapat mendeteksi bukti virus dengue, namun hasil tes biasanya keluar agak lama untuk segera memberi keputusan pengobatan. Dokter nantinya juga akan memeriksa beberapa gejala demam berdarah yang Anda rasakan. Terlebih apabila Anda mengalami gejala setelah bepergian ke daerah di mana kasus demam berdarah dan virus dengue banyak terjadi. Pasien juga harus memberikan rincian perjalanan Anda kepada dokter. Misalnya, daerah mana yang Anda kunjungi setelah merasakan gejala DBD, untuk berapa lama di sana, dan hal lainnya menyangkut tanda DDB. Jika dua minggu atau lebih sejak Anda diketahui digigit nyamuk, kecil kemungkinan diagnosis Anda terkena virus dengue. Untuk diagnosis pasti demam berdarah, tes darah juga akan diperlukan. Ini akan memeriksa virus yang sebenarnya atau antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh Anda sebagai respons terhadap infeksi. Bagaimana cara mengobati demam berdarah dengue? Tidak ada penanganan spesifik untuk demam berdarah, kebanyakan pasien pulih dalam 2 minggu. Penting untuk menangani gejala-gejala untuk menghindari komplikasi. Dokter biasanya merekomendasikan pilihan pengobatan berikut: 1. Minum obat untuk menurunkan demam Paracetamol adalah obat pereda nyeri yang dapat meringankan rasa sakit dan menurunkan demam. Hindari penghilang rasa sakit yang dapat meningkatkan komplikasi perdarahan, seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen sodium. Untuk kasus yang lebih serius, demam berdarah dapat menyebabkan shock atau hemorrhagic fever yang memerlukan perhatian medis lebih. 2. Istirahat yang banyak di tempat tidur Orang yang sedang mengalami kondisi demam berdarah disarankan untuk beristirahat. Dengan istirahat, pasien akan lebih cepat untuk pulih. Istirahat dapat membantu pemulihan jaringan tubuh yang rusak saat demam berdarah menyerang. Di rumah sakit, dokter akan memberikan pasien DBD beberapa obat agar cepat mengantuk dan pasien pun bisa istirahat sepenuhnya. 3. Minum banyak cairan Dokter akan menyarankan pasien demam berdarah yang diopname atau di rawat jalan di rumah untuk mengonsumsi banyak cairan. Tidak hanya air mineral atau infus saja, cairan bisa berupa dari makanan berkuah, buah, atau jus. Pasien DBD wajib konsumsi cairan untuk menurunkan demam dan mencegah tubuh dehidrasi. Lalu, gejala demam berdarah karena virus dengue yang ditandai dengan kram otot dan sakit kepala karena dehidrasi dapat ditangani dengan minum banyak cairan. Pengobatan di rumah Apa saja perubahan gaya hidup dan pengobatan di rumah untuk mengatasi demam berdarah dengue? Anda dapat mengatasi demam berdarah dengue dengan perawatan di rumah. Anda memerlukan hidrasi serta penanganan rasa sakit yang baik. Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda: 1. Anda bisa menggunakan AC pada ruangan dan di sekitar tempat tidur. Penting untuk menjaga rumah dari nyamuk terutama pada malam hari. 2. Sementara waktu, hindari kunjungan ke daerah yang kasus demam berdarahnya sedang banyak 3. Atur waktu kapan Anda harus berkegiatan di luar ruangan ulang kegiatan di luar ruangan. Hindari berada di luar ruangan pada dini hari, senja, atau malam hari. Di mana pada waktu tersebut, nyamuk mencari mangsa atau keluar dari sarangnya. 4. Gunakan pakaian yang tertutup melindungi tubuh Anda. Misalnya, gunakan baju berlengan panjang, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu saat keluar di malam hari. Gunakan penangkal nyamuk yang mengandung permethrin dapat dipakaikan ke pakaian, sepatu, alat kemah Anda. Anda juga dapat membeli pakaian yang mengandung permethrin. 5. Saat memakai spray lotion anti nyamuk untuk mencegah demam berdarah ke tubuh Anda, gunakan penangkal yang mengandung paling sedikit 10% konsentrasi DEET nya. Pakai juga kelambu di sekitaran ranjang Anda untuk menghalau nyamuk saat tidur. 6. Basmi tempat tinggal nyamuk di sekitar rumah Anda. Umumnya, nyamuk yang membawa virus dengue biasanya tinggal di dalam dan sekitar perumahan, berkembang biak di genangan air, seperti ban mobil. Tempat atau sampah yang bisa menampung air, terlebih saat musim hujan, bisa menjadi sarang nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Tutup semua tempat penyimpanan air bersih Anda dengan rapat. Jangan lupa juga untuk menguras atau mengganti bak mandi, kolam , tempat minum hewan di rumah secara rutin. 7. Apabila ada 1 sampai 2 kasus demam berdarah alias DBD di lingkungan rumah Anda, segera anjurkan ketua RT setempat untuk melakukan fogging. Menyemprot gas fogging dengan bahan zat pyrethroid sintetis dapat membunuh nyamuk dan serangga.

RA (Rheumatoid Arthritis)

17-09-2019

Rheumatoid arthritis adalah peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri. Radang sendi ini menimbulkan keluhan bengkak dan nyeri sendi, serta sendi terasa kaku. Rheumatoid arthritis lebih sering diderita oleh wanita, terutama yang berusia antara 40 hingga 60 tahun, dan biasanya terjadi simetris pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh. Penyebab Rheumatoid Arthritis Rheumatoid Arthritis tergolong penyakit autoimun. Meski penyebab kondisi autoimun tersebut belum dapat diketahui secara pasti, namun diduga kondisi ini dapat terjadi karena faktor genetik. Penderita rheumatoid arthritis biasanya memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Di sisi lain, dokter juga menyangka faktor lingkungan atau paparan bahan kimia dapat memicu terjadinya kondisi ini, Penanganan Rheumatoid Arthritis Rheumatoid arthritis perlu ditangani dengan baik untuk mencegah pengikisan tulang dan kelainan bentuk sendi. Selain menimbulkan keluhan radang sendi, rheumatoid arthritis juga bisa menimbulkan keluhan pada kulit, mata, paru-paru, jantung, serta pembuluh darah. Langkah penanganan dapat dilakukan dengan penanganan mandiri di rumah. Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat sesuai tingkat keparahan penyakit dan terapi agar penderita dapat lebih mudah melakukan kegiatan sehari-hari. Namun jika pemberian obat belum bisa mengatasi gejala, maka dokter dapat melakukan prosedur operasi.

VIRUS EBOLA

06-08-2019

Ebola adalah penyakit akibat infeksi virus mematikan, yang bisa menyebabkan demam, diare, serta perdarahan di dalam tubuh penderitanya. Hanya 10% penderita Ebola yang selamat dari infeksi virus ini, tetapi penyakit ini jarang terjadi. Hingga saat ini, belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Namun, sikap waspada dan langkah pencegahan terhadap penyakit yang mewabah di benua Afrika ini tetap perlu dilakukan. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat setiap hari. Penularan Ebola Penyebaran virus Ebola diduga berawal dari interaksi antara manusia dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar, monyet, atau simpanse. Sejak itu, penularan virus mulai terjadi antarmanusia. Darah atau cairan tubuh penderita dapat masuk ke dalam tubuh orang lain melalui luka pada kulit atau lapisan dalam hidung, mulut, dan dubur. Cairan tubuh yang dimaksud adalah air liur, muntah, keringat, ASI, urine, tinja, dan air mani. Virus Ebola juga dapat menular melalui kontak dengan benda yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh penderita, seperti pakaian, seprai, perban, dan jarum suntik. Namun demikian, Ebola tidak ditularkan melalui udara, atau melalui gigitan nyamuk. Penderita Ebola juga tidak dapat menularkan virus ke orang lain hingga gejala penyakit muncul. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan seseorang berisiko terkena virus Ebola, yaitu: Bepergian ke negara yang memiliki kasus Ebola, seperti Sudan, Kongo, Liberia, Guinea, dan Sierra Leone. Petugas medis, berisiko terinfeksi jika tidak menggunakan pakaian pelindung ketika merawat pasien Ebola. Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita, berisiko tertular ketika merawat penderita Peneliti hewan, berisiko terinfeksi virus Ebola terutama ketika melakukan penelitian terhadap hewan primata yang didatangkan dari Afrika. Mempersiapkan pemakaman korban Ebola. Jasad penderita Ebola masih berisiko menularkan. Proses pemakaman sebaiknya diserahkan kepada pihak yang sudah dilatih khusus untuk menangani jasad penderita Ebola. Gejala Ebola Gejala awal Ebola adalah demam, sakit kepala, menggigil, nyeri otot dan sendi, serta tubuh terasa lemah. Gejala awal ini muncul dalam 2-21 hari setelah kontak dengan penderita. Seiring waktu, gejala yang dirasakan akan semakin parah, meliputi: Muncul ruam kulit. Mata merah. Sakit tenggorokan. Nyeri dada. Sakit maag. Mual dan muntah. Diare, bisa disertai darah. Berat badan turun drastis. Keluar darah melalui mulut, hidung, mata, atau telinga. Penularan virus Ebola terjadi sangat cepat dan mematikan. Jika Anda atau anggota keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera kunjungi rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan. Diagnosis Ebola Ebola merupakan salah satu penyakit yang sulit dideteksi karena gejala yang muncul hampir serupa dengan penyakit infeksi lain, seperti flu, malaria, atau tifus. Dalam mendiagnosis Ebola, dokter akan melakukan tes darah untuk mendeteksi antibodi yang dibentuk oleh tubuh sebagai respon terhadap virus Ebola. Tes darah juga dilakukan untuk melihat fungsi tubuh yang terganggu akibat Ebola, seperti: Jumlah sel darah Fungsi hati Fungsi pembekuan darah Jika diduga terinfeksi virus Ebola, maka pasien akan menjalani perawatan intensif di ruang isolasi rumah sakit untuk mencegah penyebaran virus. Pengobatan Ebola Langkah pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk mengendalikan gejala dan membantu sistem kekebalan tubuh pasien dalam melawan virus. Hal ini dikarenakan obat untuk menangani virus Ebola belum ditemukan hingga saat ini. Beberapa tindakan pengobatan pendukung yang dapat dilakukan, yaitu: Infus cairan untuk mencegah dehidrasi. Obat darah tinggi untuk menurunkan tekanan darah. Oksigen tambahan untuk menjaga aliran oksigen ke seluruh tubuh. Transfusi darah, jika muncul kurang darah (anemia). Penderita Ebola akan menjalani masa pemulihan selama beberapa bulan, hingga virus hilang. Dalam masa pemulihan, penderita akan mengalami: Rambut rontok Penyakit kuning Gangguan saraf Rasa lelah yang berlebihan Peradangan pada mata dan testis Kesembuhan pasien akan tergantung pada sistem kekebalan tubuh, cepatnya pengobatan dilakukan, dan respons terhadap pengobatan. Penderita yang sembuh akan kebal terhadap virus ini selama kurang lebih 10 tahun. Komplikasi Ebola Setiap penderita memiliki respons sistem kekebalan tubuh yang berbeda terhadap virus Ebola. Sebagian penderita dapat pulih dari Ebola tanpa disertai komplikasi, namun sebagian lagi dapat mengalami kondisi yang mengancam nyawa, seperti: Kejang Koma Perdarahan hebat Syok Gagal berfungsinya organ-organ tubuh Pencegahan Ebola Vaksin untuk mencegah Ebola belum ditemukan hingga saat ini. Cara terbaik untuk mencegah Ebola adalah dengan tidak melakukan perjalanan ke negara atau wilayah yang memiliki riwayat Ebola. Namun jika Anda berencana untuk bepergian ke negara yang memiliki kasus Ebola, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan, yaitu: Jaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami demam dan diduga memiliki gejala Ebola. Hindari menyentuh benda yang telah terkotaminasi darah atau cairan tubuh penderita Ebola Hindari kontak langsung dengan kelelawar dan hewan primata yang berpotensi menularkan virus, termasuk darah, kotoran, dan dagingnya. Hindari rumah sakit tempat pasien Ebola menjalani perawatan. Segera periksakan diri ke dokter setelah kembali dari wilayah tersebut, untuk mendeteksi kemungkinan gejala Ebola. Khusus untuk petugas medis, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko penularan virus Ebola, yaitu: Gunakan alat pelindung diri, termasuk pakaian pelindung (apron), masker, sarung tangan, dan pelindung mata, ketika sedang berada di sekitar penderita Ebola. Berhati-hati ketika mengambil darah atau sampel cairan tubuh, serta memasang infus atau kateter pada Selalu cuci tangan, terutama setelah menyentuh pasien atau benda di sekitar pasien. Segera buang peralatan medis sekali pakai, misalnya alat suntik, ke tempat yang telah ditentukan. Hindari kontak langsung dengan jasad penderita Ebola.

HIPERTENSI

09-07-2019

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi saat tekanan darah berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih. Kondisi ini dapat menjadi berbahaya, karena jantung dipaksa memompa darah lebih keras ke seluruh tubuh, hingga bisa mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit, seperti gagal ginjal, stroke, dan gagal jantung. Cara Mengukur Tekanan Darah Tekanan darah dibagi 2 menjadi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Sedangkan tekanan darah diastolik adalah tekanan saat otot jantung relaksasi, sebelum kembali memompa darah. Dalam pencatatannya, tekanan darah sistolik ditulis lebih dahulu dari tekanan darah diastolik, dan memiliki angka yang lebih tinggi. Menurut perkumpulan dokter jantung di Amerika Serikat, AHA, pada tahun 2017, tekanan darah diklasifikasikan sebagai berikut: Normal: berada di bawah 120/80 mmHg. Meningkat: berkisar antara 120-129 untuk tekanan sistolik dan < 80 mmHg untuk tekanan diastolik. Hipertensi tingkat 1: 130/80 mmHg hingga 139/89 mmHg. Hipertensi tingkat 2: 140/90 atau lebih tinggi. Penyebab dan Faktor Risiko Hipertensi Tekanan darah tinggi seringkali tidak diketahui penyebabnya. Tetapi, ada beberapa kondisi yang dapat memicu tekanan darah tinggi, di antaranya: Kehamilan Kecanduan alkohol Penyalahgunaan NAPZA Gangguan ginjal Gangguan pernapasan saat tidur. Meskipun bisa terjadi pada semua orang, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi, seperti: Lanjut usia Memiliki keluarga yang menderita hipertensi Memiliki kebiasaan merokok Jarang berolahraga. Pengobatan dan Pencegahan Hipertensi Menjalani gaya hidup sehat dapat menurunkan sekaligus mencegah hipertensi. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah: Konsumsi makanan yang sehat. Menjaga berat badan ideal. Rutin berolahraga. Berhenti merokok. Beberapa pasien hipertensi diharuskan mengonsumsi obat penurun tekanan darah seumur hidupnya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan langkah pencegahan sedini mungkin, terutama bila Anda memiliki faktor risiko hipertensi. Komplikasi Hipertensi Tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah dan organ-organ lain di dalam tubuh. Jika dibiarkan hipertensi bisa menimbulkan penyakit-penyakit serius, seperti: Aterosklerosis Kehilangan penglihatan Terbentuk aneurisma Gagal ginjal

STUNTING

25-06-2019

Mungkin tidak semua orang akrab dengan istilah stunting. Padahal, menurut Badan Kesehatan Dunia, Indonesia ada di urutan ke-lima jumlah anak dengan kondisi stunting. Salah satu wilayah di Indonesia dengan angka stunting tertinggi adalah kabupaten Ogan Komering ilir. Angka stunting kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menurut Riskesdas mencapai 40,5% atau hampir setengah balita di OKI mengalami stunting. Bahkan, angka ini di atas angka stunting nasional 37%. Menurut WHO, di seluruh dunia, diperkirakan ada 178 juta anak di bawah usia lima tahun pertumbuhannya terhambat karena stunting. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi. Penyebab Stunting Situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut: 1. Kurang gizi kronis dalam waktu lama 2. Retardasi pertumbuhan intrauterine 3. Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori 4. Perubahan hormon yang dipicu oleh stres 5. Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak. Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang. Gejala Stunting 1. Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya 2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya 3. Berat badan rendah untuk anak seusianya 4. Pertumbuhan tulang tertunda Mencegah Stunting Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Stunting di awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional ketika dewasa. Untuk mengatasi masalah stunting ini Kementerian Kesehatan dengan dukungan Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-I), melalui Program Hibah Compact Millennium Challenge Corporation (MCC) melakukan Kampanye Gizi Nasional Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM). Salah satu intervensi dalam program PKGM adalah tentang perubahan prilaku masyarakat, yang dilakukan dalam program Kampanye Gizi Nasional (KGN). Program KGN di wilayah OKI dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh, seperti melakukan aktifasi posyandu-posyandu dan pemberian pengetahuan tentang gizi anak, mulai dari makanan apa saja yang boleh untuk bayi di atas enam bulan, bagaimana tekstur yang baik, berapa banyak yang harus diberikan, termasuk pengetahuan pentingnya ASI eksklusif. Yang menarik, tim posyandu mengadakan door prize untuk menarik minat dan perhatian para ibu untuk hadir mendengarkan penyuluhan di posyandu. “Setelah penyuluhan, kami lempar pertanyaan. Mau enggak mau mereka harus dengerin, biar bisa jawab. Hadiahnya enggak mahal, kebutuhan rumah tangga sehari-hari saja. Tapi, ini sudah membuat mereka semangat datang,” jelas Hera Wiyana, seorang fasilitator di posyandu desa Sugih Waras, Ogan Komering Ilir. Hera menambahkan, para bidan dan fasilitator biasanya punya catatan siapa saja yang rajin hadir dan bahkan yang tak pernah hadir ke posyandu. Kalau memang ada yang tak pernah hadir, bidan atau fasilitator tak segan datang langsung ke rumahnya untuk memberikan penyuluhan. "Ada banyak faktor, misalnya saja jarak yang jauh membuat mereka malas datang ke posyandu. Tapi, kan tetap tanggungjawab kita memberi penyuluhan kesehatan. Jadi, ya kita datangi." Selain itu, para ibu hamil tak hanya diwajibkan periksa secara berkala dan diberi tablet penambah darah, tapi juga diberikan penyuluhan melalui kelas pendukung ibu. Tujuannya, agar ibu mengetahui perkembangan kehamilannya dan bisa lebih menjaga kondisi kehamilannya. Pasalnya, stunting sangat dipengaruhi oleh seribu hari pertama kehidupan, dimulai dari dalam kandungan. “Kalau ibunya sehat, janinnya juga sehat. Jadi, kita kasih tahu apa saja yang harus dilakukan selama kehamilan. Makanan apa yang baik dikonsumsi. Jangan sampai ibu hamil kurang gizi, kan bisa memengaruhi janinnya juga,” Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal "Stunting" dan Efeknya pada Pertumbuhan Anak", https://lifestyle.kompas.com/read/2017/02/08/100300123/mengenal.stunting.dan.efeknya.pada.pertumbuhan.anak?page=all.

TB PARU DAN RO

21-05-2019

Tb (singkatan dari "Tubercle bacillus") merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis (disingkat "MTb" atau "MTbc").[1] Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara.[2] Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatikdan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal. Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, dan berat badan turun. (dahulu TB disebut penyakit "konsumsi" karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan.) Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi (biasanya melalui sinar-X dada) serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur mikrobiologis cairan tubuh. Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah. Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette–Guérin. Bila infeksi Tuberkulosis yang timbul menjadi aktif, sekitar 90%-nya selalu melibatkan paru-paru.[6][10] Gejala-gejalanya antara lain berupa nyeri dada dan batuk berdahak yang berkepanjangan. Sekitar 25% penderita tidak menunjukkan gejala apapun (yang demikian disebut "asimptomatik").[6] Kadangkala, penderita mengalami sedikit batuk darah. Dalam kasus-kasus tertentu yang jarang terjadi, infeksi bisa mengikis ke dalam arteri pulmonalis, dan menyebabkan pendarahan parah yang disebut Aneurisma Rasmussen. Tuberkulosis juga bisa berkembang menjadi penyakit kronis dan menyebabkan luka parut luas di bagian lobus atas paru-paru. Paru-paru atas paling sering terinfeksi.[9] Alasannya belum begitu jelas.[1] Kemungkinan karena paru-paru atas lebih banyak mendapatkan aliran udara[1] atau bisa juga karena drainase limfa yang kurang baik pada paru bagian atas

GASTRITIS

07-05-2019

Gastritis merupakan penyakit pada lambung yang terjadi akibat peradangan dinding lambung. Pada dinding lambung atau lapisan mukosa lambung ini terdapat kelenjar yang menghasilkan asam lambung dan enzim pencernaan yang bernama pepsin. Untuk melindungi lapisan mukosa lambung dari kerusakan yang diakibatkan asam lambung, dinding lambung dilapisi oleh lendir (mukus) yang tebal. Apabila mukus tersebut rusak, dinding lambung rentan mengalami peradangan. Secara umum, gastritis dibagi menjadi dua jenis, yaitu gastritis akut dan kronis. Dikatakan gastritis akut ketika peradangan pada lapisan lambung terjadi secara tiba-tiba. Gastritis akut akan menyebabkan nyeri ulu hati yang hebat, namun hanya bersifat sementara. Sedangkan pada gastritis kronis, peradangan di lapisan lambung terjadi secara perlahan dan dalam waktu yang lama. Nyeri yang ditimbulkan oleh gastritis kronis merupakan nyeri yang lebih ringan dibandingkan dengan gastritis akut, namun terjadi dalam waktu yang lebih lama dan muncul lebih sering. Peradangan kronis lapisan lambung ini dapat menyebabkan perubahan struktur lapisan lambung dan berisiko berkembang menjadi kanker. Selain berisiko menimbulkan kanker, gastritis juga dapat menyebabkan pengikisan lapisan lambung. Pengikisan lapisan lambung ini dikenal dengan gastritis erosif, yang dapat menyebabkan terjadinya luka dan perdarahan pada lambung. Gastritis tipe erosif lebih jarang terjadi dibandingkan gastritis non erosif. Gejala Gastritis Gejala gastritis yang dirasakan dapat berbeda pada tiap penderita. Akan tetapi, kondisi ini bisa juga tidak selalu menimbulkan gejala. Beberapa contoh gejala gastritis adalah: Nyeri yang terasa panas dan perih di perut bagian uluhati. Perut kembung. Cegukan. Mual. Muntah. Hilang nafsu makan. Cepat merasa kenyang saat makan. Buang air besar dengan tinja berwarna hitam. Muntah darah. Jika seseorang menderita gastritis erosif hingga menyebabkan luka atau perdarahan pada lambung, gejala yang muncul adalah muntah darah dan tinja berwarna hitam. Akan tetapi, tidak semua nyeri pada perut menandakan gastritis. Berbagai penyakit juga dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan gastritis, seperti penyakit Crohn, batu empedu, dan keracunan makanan. Oleh karena itu diagnosis untuk menentukan penyebab terjadinya nyeri perut sangat penting untuk dilakukan. Penyebab Gastritis Gastritis terjadi akibat peradangan pada dinding lambung. Dinding lambung tersusun dari jaringan yang mengandung kelenjar untuk menghasilkan enzim pencernaan dan asam lambung. Selain itu, dinding lambung juga dapat menghasilkan lendir (mukus) yang tebal untuk melindungi lapisan mukosa lambung dari kerusakan akibat enzim pencernaan dan asam lambung. Rusaknya mukus pelindung ini dapat menyebabkan peradangan pada mukosa lambung. Beberapa hal yang dapat menyebabkan rusaknya mukus pelindung, adalah: Infeksi bakteri. Infeksi bakteri merupakan salah satu penyebab gastritis yang cukup sering terjadi, terutama di daerah dengan kebersihan lingkungan yang kurang baik. Bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada lambung dan menimbulkan gastritis, cukup banyak jenisnya. Namun, yang paling sering adalah bakteri Helicobacter pylori. Selain dipengaruhi faktor kebersihan lingkungan, infeksi bakteri ini juga dipengaruhi oleh pola hidup dan pola makan. Pertambahan usia. Seiring bertambahnya usia, lapisan mukosa lambung akan mengalami penipisan dan melemah. Kondisi inilah yang menyebabkan gastritis lebih sering terjadi pada lansia dibandingkan orang yang berusia lebih muda. Berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol. Minuman beralkohol dapat mengikis lapisan mukosa lambung, terutama jika seseorang sangat sering mengonsumsinya. Pengikisan lapisan mukosa oleh alkohol dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada dinding lambung, sehingga mengakibatkan terjadinya gastritis, terutama gastritis akut. Terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri. Obat pereda nyeri yang dikonsumsi terlalu sering dapat menghambat proses regenerasi lapisan mukosa lambung, yang berujung pada cedera dan pelemahan dinding lambung, sehingga lebih mudah mengalami peradangan. Beberapa obat pereda nyeri yang dapat memicu gastritis jika dikonsumsi terlalu sering, adalah aspirin, ibuprofen, dan naproxen. Autoimun. Gastritis juga dapat terjadi karena dipicu oleh penyakit autoimun. Gastritis jenis ini disebut gastritis autoimun. Gastritis autoimun terjadi pada saat sistem imun menyerang dinding lambung, sehingga menyebabkan peradangan. Selain penyebab di atas, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gastritis adalah: Penyakit Crohn. Infeksi virus. Kebiasaan merokok. Infeksi parasit. Refluks empedu. Gagal ginjal. Penggunaan kokain. Menelan zat yang bersifat korosif dan dapat merusak dinding lambung, misalnya obat pembasmi hama. Diagnosis Gastritis Pasien yang diduga menderita gastritis terlebih dahulu akan menjalani pemeriksaan riwayat kesehatan serta pemeriksaan fisik oleh dokter. Pemeriksaan riwayat kesehatan mencakup menanyakan mengenai gejala yang muncul, sudah berapa lama dirasakan, serta kondisi kesehatan pasien secara umum. Untuk diagnosis yang lebih akurat, dokter akan menyarankan pasien menjalani pemeriksaan lanjutan. Di antaranya: Tes untuk infeksi Helicobacter pylori. Contohnya adalah tes darah, tes sampel tinja, atau uji urea pada pernapasan (urea breath test). Selain untuk mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori, tes darah juga dapat mendeteksi jika pasien mengalami anemia. Tes sampel tinja juga dapat mendeteksi jika pasien menderita gastritis, terutama gastritis erosif dengan mendeteksi keberadaan darah pada tinja. Gastroskopi, guna melihat adanya tanda-tanda peradangan di dalam lambung. Pemeriksaan gastroskopi dilakukan dengan cara memasukkan selang khusus yang sudah dipasangi kamera di ujungnya. Selang dimasukkan ke dalam lambung melalui mulut, untuk melihat kondisi lambung. Pemeriksaan ini terkadang dikombinasikan dengan biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan pada daerah yang dicurigai mengalami radang, untuk selanjutnya diteliti di laboratorium. Biopsi juga bisa dilakukan untuk melihat keberadaan bakteri pylori. Pemeriksaan foto Rontgen. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kondisi saluran pencernaan bagian atas. Untuk membantu melihat luka pada saluran pencernaan, terutama lambung, pasien akan diminta untuk menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum foto Rontgen dilakukan. Pengobatan Gastritis Pengobatan yang diberikan kepada pasien oleh dokter, tergantung kepada penyebab dan kondisi yang memengaruhi terjadinya gastritis. Untuk mengobati gastritis dan meredakan gejala-gejala yang ditimbulkan, dokter dapat memberikan obat-obatan berupa: Obat antasida. Antasida mampu meredakan gejala gastritis (terutama rasa nyeri) secara cepat, dengan cara menetralisir asam lambung. Obat ini efektif untuk meredakan gejala-gejala gastritis, terutama gastritis akut. Contoh obat antasida yang dapat dikonsumsi oleh pasien adalah aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida. Obat penghambat histamin 2 (H2 blocker). Obat ini mampu meredakan gejala gastritis dengan cara menurunkan produksi asam di dalam lambung. Contoh obat penghambat histamin 2 adalah ranitidin, cimetidine, dan famotidine. Obat penghambat pompa proton (PPI). Obat ini memiliki tujuan yang sama seperti penghambat histamin 2, yaitu menurunkan produksi asam lambung, namun dengan mekanisme kerja yang berbeda. Contoh obat penghambat pompa proton adalah omeprazole, lansoprazole, esomeprazole, rabeprazole, dan pantoprazole. Obat antibiotik. Obat ini diresepkan pada penderita gastritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri, yaitu Helicobacter pylori. Contoh obat antibiotik yang dapat diberikan kepada penderita gastritis adalah amoxicillin, clarithromycin, tetracycline, dan metronidazole. Obat antidiare. Diberikan kepada penderita gastritis dengan keluhan diare. Contoh obat antidiare yang dapat diberikan kepada penderita gastritis adalah bismut subsalisilat. Untuk membantu meredakan gejala dan penyembuhan gastritis, pasien perlu menyesuaikan gaya hidup dan kebiasaan. Pasien akan dianjurkan untuk membuat pola dan jadwal makan yang teratur. Pasien yang sering makan dengan porsi besar, akan dianjurkan untuk mengubah porsinya menjadi sedikit-sedikit, sehingga jadwal makan menjadi lebih sering dari biasanya. Selain itu, pasien sebaiknya menghindari makanan berminyak, asam, atau pedas, guna mencegah gajala gastritis bertambah parah. Jika sering mengonsumsi minuman beralkohol, pasien akan dianjurkan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan kebiasaan tersebut. Stres juga dapat menjadi pemicu timbulnya kondisi ini. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk mengendalikan tingkat stresnya, agar dapat membantu pemulihan. Jika gejala gastritis sering kambuh akibat penggunaan obat pereda nyeri jenis antiinflamasi nonsteroid (OAINS), maka sebaiknya pasien mengonsultasikan hal tersebut kepada dokter. Komplikasi Gastritis Komplikasi akibat gastritis bisa saja terjadi jika kondisi ini tidak diobati. Beberapa di antaranya adalah: Tukak lambung. Pendarahan di dalam lambung. Kanker lambung.

ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut)

16-04-2019

Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA adalah infeksi di saluran pernapasan, yang menimbulkan gejala batuk, pilek, disertai dengan demam. ISPA sangat mudah menular dan dapat dialami oleh siapa saja, terutama anak-anak dan lansia. Sesuai dengan namanya, ISPA akan menimbulkan peradangan pada saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Kebanyakan ISPA disebabkan oleh virus, sehingga dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus dan antibiotik. Walaupun demikian, seseorang perlu waspada dan mengetahui kapan saatnya perlu berkonsultasi dengan dokter, serta cara mencegah penyakit ini. ISPA-Alodokter Penyebab ISPA Penyebab ISPA adalah virus atau bakteri, yang mudah sekali menular. Penularan virus atau bakteri penyebab ISPA dapat terjadi melalui kontak dengan percikan air liur orang yang terinfeksi. Virus atau bakteri dalam percikan liur akan menyebar melalui udara, masuk ke hidung atau mulut orang lain. Selain kontak langsung dengan percikan liur penderita, virus juga dapat menyebar melalui sentuhan dengan benda yang terkontaminasi, atau berjabat tangan dengan penderita. Walaupun penyebarannya mudah, ada beberapa kelompok orang yang lebih rentan tertular ISPA, yaitu: 1. Anak-anak dan lansia Anak-anak dan lansia memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, sehingga rentan terhadap berbagai infeksi. Selain itu, penyebaran virus atau bakteri ISPA di kalangan anak-anak dapat terjadi sangat cepat karena anak-anak banyak berinteraksi secara dekat dan melakukan kontak dengan anak-anak yang lain. 2. Orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh lemah Sistem kekebalan tubuh sangat berpengaruh dalam melawan infeksi virus maupun bakteri. Ketika kekebalan tubuh menurun, maka risiko terinfeksi akan semakin meningkat. Salah satunya adalah penderita AIDS atau kanker. 3. Penderita gangguan jantung dan paru-paru ISPA lebih sering terjadi pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau gangguan pada paru-paru sebelumnya. 4. Perokok aktif Perokok lebih berisiko mengalami gangguan fungsi paru dan saluran pernapasan, sehingga rentan mengalami ISPA dan cenderung lebih sulit untuk pulih. Gejala ISPA Gejala dari infeksi saluran pernapasan akut berlangsung antara 1-2 minggu. Sebagian besar penderita akan mengalami perbaikan gejala setelah minggu pertama. Gejala tersebut adalah: Batuk Bersin Pilek Hidung tersumbat Nyeri tenggorokan Sesak napas Demam Sakit kepala Nyeri otot Kapan Harus ke Dokter ISPA, terutama karena virus, akan membaik dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan khusus. Rasa tidak nyaman dan demam dapat diredakan dengan kompres pada daerah dahi, ketiak, dan selangkangan, serta konsumsi obat paracetamol yang dijual bebas. Selain mengatasi demam, paracetamol juga dapat mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman yang menyertai ISPA. Jika keluhan dirasakan semakin memburuk, demam tidak mau turun walaupun diberikan obat penurun panas, atau muncul gejala yang lebih serius, seperti menggigil, sesak napas, batuk darah, atau penurunan kesadaran, segeralah pergi ke instalasi gawat darurat (IGD) di rumah sakit terdekat. Pada anak-anak, selain keluhan di atas, segeralah bawa anak ke dokter bila ISPA disertai dengan gejala sebagai berikut: Sulit bernapas, bisa terlihat dari tulang iga yang nampak jelas saat bernapas (retraksi). Muntah-muntah. Menjadi malas bermain. Menjadi lebih diam dibandingkan Muncul suara bengek saat menghembuskan napas. Diagnosis ISPA Ketika pasien mengalami gangguan pernapasan, maka dokter akan memeriksa gejala dan penyakit lain yang pernah dialami. Selanjutnya, dokter akan memeriksa hidung, telinga, dan tenggorokan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi. Dokter juga akan memeriksa suara napas dengan stetoskop untuk memantau apakah ada penumpukan cairan atau peradangan pada paru-paru. Jika pasien mengalami sesak napas, dokter akan melakukan pemeriksaan kadar (saturasi) oksigen di dalam tubuh dengan alat pulse oxymetry. Bila ISPA disebabkan oleh virus, dokter tidak akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena dapat sembuh sendiri setelah beberapa minggu. Meski begitu, perbaikan maupun perburukan gejala perlu tetap dipantau. Bila dicurigai terdapat kuman khusus yang menyebabkan ISPA, dokter akan melakukan pengambilan sampel dahak atau usap tenggorokan untuk diperiksa di laboratorium. Dan bila infeksi menyerang paru-paru, dokter akan melakukan pemeriksaan foto Rontgen dada atau CT scan, untuk memeriksa kondisi paru-paru. Pengobatan ISPA Seperti telah disebutkan sebelumnya, ISPA paling sering disebabkan oleh virus, sehingga akan sembuh sendiri tanpa perlu penanganan khusus. Beberapa tindakan untuk meredakan gejala dapat dilakukan secara mandiri di rumah, yaitu dengan: Memperbanyak istirahat dan konsumsi air putih untuk mengencerkan dahak, sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan. Mengonsumsi minuman lemon hangat atau madu untuk membantu meredakan batuk. Berkumur dengan air hangat yang diberi garam, jika mengalami sakit tenggorokan. Menghirup uap dari semangkuk air panas yang telah dicampur dengan minyak kayu putih atau mentol untuk meredakan hidung yang tersumbat. Memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur dengan menggunakan bantal tambahan, untuk melancarkan pernapasan. Jika gejala yang dialami tidak membaik, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala, antara lain: Ibuprofen atau paracetamol, untuk meredakan demam dan nyeri otot. Diphenhydramine dan pseudoephedrine, untuk mengatasi pilek dan hidung tersumbat. Obat batuk. Antibiotik, jika dokter menemukan bahwa ISPA disebabkan oleh bakteri. Komplikasi ISPA Jika infeksi terjadi di paru-paru dan tidak ditangani dengan baik, dapat terjadi komplikasi yang serius dan dapat berakibat fatal. Komplikasi yang sering terjadi akibat ISPA adalah gagal napas akibat paru-paru berhenti berfungsi, peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah, serta gagal jantung. Pencegahan ISPA Tindakan pencegahan utama ISPA adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu: Cuci tangan secara teratur, terutama setelah beraktivitas di tempat umum. Hindari menyentuh wajah, terutama bagian mulut, hidung, dan mata, untuk menghindari penularan virus dan bakteri. Gunakan sapu tangan atau tisu untuk menutup mulut ketika bersin atau batuk. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke orang lain. Perbanyak konsumsi makanan kaya vitamin, terutama vitamin C, untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Olahraga secara teratur. Berhenti merokok. Lakukan vaksinasi, baik vaksin MMR, influenza, atau pneumonia. Diskusikan dengan dokter mengenai keperluan, manfaat, dan risiko dari vaksinasi ini.